Selasa, 26 April 2016

Model Pembelajaran Jigsaw

BAB I PENDAHULUAN 
 A. Latar Belakang 
          Dalam era global, teknologi telah menyentuh segala aspek pendidikan sehingga, informasi lebih mudah diperloleh, hendaknya siswa aktif berpartisipasi sedemikian sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa didalam proses belajar. Keaktifan disini berarti keaktifan mental walaupun untuk maksud ini sedapat mungkin dipersyaratkan keterlibatan langsung keaktifan fisik dan tidak nya berfokus pada satu sumber informasi yaitu guru yang hanya mengandalakan satu sumber komunikasi. Seringnya rasa malu siswa yang muncul untuk melakukan komunikasi dengan guru, membuat kondisi kelas yang tidak aktif sehingga berpulang pada rendahnya prestasi belajar siswa. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya. Salah satu pembelajaran yang ditawarkan adalah kooperatif tipe jigsaw. 
          Falsafah yang mendasari pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pendidikan ialah “homo homoni socius” (pembelajaran gotong­royong) yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Pembelajaran kooperatif terutama tipe jigsaw dianggap sangat cocok di terapkan di Indonesia karena sesuai dengan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. 
          Model pembelajaran jigsaw adalah suatu tehnik pembelajaran kooperatiff dimana siswa, bukan guru yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam pelaksanaan pembelajaran. Adapun tujuan dari model pembelajaran jigsaw ini mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, serta menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh bila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi secara sendirian.
          Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning Teknik Jigsaw” bahwa metode pembelajaran koopertif teknik jigsaw tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsure­unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal­asalan. Roger dan David Johnson mangatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning teknik jigsaw.

B. Rumusan Masalah 
          Berangkat dari uraian singkat di atas, tim penyusun dapat merumuskan masalah yang menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini yaitu:
1) Pengertian model pembelajaran jigsaw?
2) Sejarah model pembelajaran jigsaw?
3) Langkah-langkah model pembelajaran jigsaw?
4) Kekurangan dan kelebihan model pembelajaran jigsaw?

C. Tujuan 
           Dalam makalah ini penulis menemukan beberapa tujuan sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui pengertian model pembelajaran jigsaw.
2) Untuk mengetahui sejarah model pembelajaran jigsaw
3) Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah model pembelajaran jigsaw.
4) Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan model jigsaw.

 D. Metode Penulisan
          Dalam pembuatan makalah ini, acuan penulisan yang kami gunakan adalah bersumber dari buku dan internet serta blog yang berkaitan dengan materi kuliah model-model pembelajaran khususnya model pembelajaran “Jigsaw”.



 BAB II 
PEMBAHASAN 
           Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian di adaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui metode jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. 
                Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa semacam itu disebut "kelompok pakar" (expert group). Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam "home teams", para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.

 A. Pengertian Metode Jigsaw 
Dalam hal ini peneliti menggunakan metode jigsaw. Istilah metode berasal dari bahasa Yunani "Metodos". Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu "Metha" yang berarti melalui atau melewati dan "hodos" jalan atau cara. Jadi metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian Kata jigsaw berasal dari bahasa Inggris yang berarti “gergaji atau memotong”. Dalam metode pembelajaran teknik jigsaw termasuk dalam jenis metode pembelajaran kooperatif. 
Metode jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif di mana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Jigsaw adalah teknik pembelajaran aktif yang biasa digunakan karena teknik ini mempertahankan tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi. Tujuan dari jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian. 
Pengertian jigsaw learning adalah sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknis "pertukaran dari kelompok ke kolompok lain." (group to group exchange) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu. Sedangkan menurut Arends (1997) model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada kelompok yang lain. 
 B. Sejarah Jigsaw 
Teknik jigsaw adalah salah satu teknik cooperative learning yang pertama kali diterapkan oleh Aronson tahun 1971 dan dipublikasin tahun 1978. Pada awalnya penelitiannya kelas jigsaw ini dipakai untuk tujuan agar mengurangi rasa kompetisi pembelajar dan masalah ras yang terdapat di sebuah kelas yang berada di Austin, Texas. Kota texas ini termasuk mengalami masalah rasis yang sangat parah, dan itu pun memunculkan intervensi dari sekolah¬-sekolah untuk menghilangkan masalah tersebut. 
Di dalam suatu kelas banyak pembelajar amerika keturunan afrika, keturunan hispanik (latin), dan pembelajar kulit putih amerika untuk yang pertama kalinya berada dalam sebuah kelas bersama-¬sama. Situasi semakin memanas dan mangancam lingkungan belajar mereka. Dan pada tahun 1971 Aronson dan beberapa lulusan pembelajar lainnya menciptakan jigsaw dan mencoba untuk menerapkannya didalam kelas. Dan usaha keras ini berhasil dengan sukses, pembelajar yang pada awalnya kurang berkomunikasi mulai berkomunikasi dan mulai bekerja sama. 
Eksperimen ini terdiri dari membentuk kelompok pembelajaran (kelompok jigsaw) dimana tiap pembelajar tergantung kepada anggota kelompoknya untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk lulus dalam ujian. Tanpa memandang ras, mereka digabungkan menjadi sebuah grup dan wajib berkerjasama diantara anggotanya agar mencapai sukses akademik. Ketika dibandingkan dengan kelas tradisional dimana pembelajar--pembelajar bersaing secara individu, pembelajar-¬pembelajar di dalam kelas. 
Wardani mengatakan bahwa teknik jigsaw adalah salah satu cooperative learning mendorong pembelajar aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Dimana dalam belajar teknik jigsaw terdapat tahap-¬tahap dalam penyelenggaraannya yaitu : 
a. Pengelompokkan pembelajar. 
b. Pemberian tugas untuk setiap anggota kelompok. 
c. Diskusi kelompok yang terdiri dari kelompok ahli. 
Yaitu kelompok yang terdiri dari kelompok ahli yaitu kelompok yang terdiri dari pembelajar heterogen , ditinjau dari segi kemampuan dan jenis kelamin yang tergabung dalam bahasan, tema, ataupun masalah yang sama. Sedangkan kelompok asal yaitu masing¬ masing kelompok terdiri dari pembelajar yang heterogen, ditinjau dari kemampuan dan jenis kelamin yang tergabung dalam bahasan, tema, masalah yang berbeda. 
a. Pemberian tes/kuis. 
b. Perhitungan penghargaan kelompok. 
Hariyanto menyatakan bahwa metode cooperative learning . Pengertian Metode Jigsaw merupakan model belajar dimana pembelajar belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan bekerja sama saling bergantung positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Setiap anggota kelompok asal bertemu dalam kelompok ahli untuk membahas materi yang ditugaskan pada masing¬masing anggota kelompok ahli untuk membahas materi yang ditugaskan pada masing¬-masing anggota kelompok dan bertanggung jawab atas bagian dari materi belajar yang ditugaskan kepadanya. Setelah pembahasan tugas seleseai kemudian kembali ke kelompok semula (asal) dan menjelaskan pada teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan materi. 
C. Langkah-langkah Metode Pembelajaran Jigsaw 
Dalam pembelajaran kooperatif jigsaw langkah-langkah yang harus dilakukan antara lain : 
1) Pembelajaran jigsaw diawali dengan pengenalan topik. Guru menuliskan topik tersebut di papan tulis dan menanyakan kepada peserta didik apa yang mereka ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata atau struktur kognitif peserta didik agar lebih siap menghadapi kegiatan pelajaran yang baru. 
2) Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah topik yang akan dibahas yang memiliki kemampuan akademik yang heterogen. Kelompok ini dinamakan kelompok asal. 
3) Masing-masing anggota kelompok asal mengambil undian untuk menentukan topik yang akan dibahas. 
4) Dari undian yang telah mereka ambil, peserta didik yang mendapat undian pertama maka akan membahas topik pertama, sedangkan yang mendapat undian kedua maka akan membahas topik kedua, demikian seterusnya. Kelompok ini dinamakan kelompok ahli yang bertanggung jawab untuk mengkaji secara mendalam topik yang mereka dapatkan. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendiskusikannya 
5) Setelah selesai, peserta didik dari masing-masing kelompok ahli kembali kekelompok asal untuk membagikan pengetahuan yang mereka dapatkan dari kelompok ahli. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi. 
6) Sebelum pembelajaran diakhiri, diadakan diskusi dengan seluruh kelas. Selanjutnya, guru menutup pembelajaran dengan memberikan review terhadap topik yang telah dipelajari. 
Fasilitator dapat mengatur strategi jigsaw dengan dua cara: 
a. Pengelompokkan Homogen 
Instruksi : Kelompokkan para peserta yang memiliki kartu nomor yang sama. Misalnya, para pe¬serta akan diorganisir ke dalam kelompok diskusi berdasarkan apa yang mereka baca. Oleh karena itu, semua peserta yang membaca bab 1, bab 2, dst, akan ditempatkan di kelompok yang sama. 
Sediakanlah empat kertas lipat, lipatlah masing-masing menjadi dua menjadi papan nama, berilah nomor 1 sampai 4 dan letakkanlah di atas meja. 
Kelebihan : Pengelompokan semacam ini memungkinkan peserta berbagi perspektif yang ber¬beda tantang bacaan yang sama, yang secara potensial diakibatkan oleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap salah satu bab. Potensi yang lebih besar untuk memunculkan proses analisis daripada hanya sekedar narasi sederhana. 
Kelemahan : Fokusnya sempit (satu bab) dan kemungkinan akan berlebihan. 
b. Pengelompokkan Hiterogen 
Instruksi : Tempatkan para peserta yang memiliki nomor yang berbeda-beda untuk duduk ber¬sama. Misalnya, setiap kelompok diskusi kemungkinan akan terdiri atas 4 individu: satu yang telah membaca bab 1, satu yang telah membaca bab 2, dsb. Sediakanlah empat kertas lipat, lipatlah masing-masing menjadi dua menjadi papan nama, berilah nomor 1 sampai 4 dan letakkanlah di setiap meja. Biarkan para peserta mencari tempatnya sendiri sesuai bab yang telah mereka baca berdasarkan “siapa cepat ia dapat”. 
Kelebihan : Memungkinkan “peer instruction” dan pengumpulan pengetahuan, memberikan pe¬serta informasi dari bab-bab yang tidak mereka baca. 
Kelemahan : Apabila satu peserta tidak membaca tugasnya, informasi tersebut tidak dapat dibagi/ didiskusikan. Potensi untuk pembelajaran yang naratif (bukan interpretatif) dalam berbagi infor¬masi. 

 D. Kelemahan dan Kelebihan Metode Jigsaw 
Tidak selamanya proses belajar dengan metode jigsaw berjalan dengan lancar. Ada beberapa hambatan yang dapat muncul, yang paling sering terjadi adalah kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini. Peserta didik dan pengajar masih terbawa kebiasaan metode konvensional, dimana pemberian materi terjadi secara satu arah. Faktor penghambat lain adalah kurangnya waktu, proses metode ini membutuhkan waktu yang lebih banyak, sementara waktu pelaksanaan metode ini harus disesuaikan dengan beban kurikulum. 
 Kelebihan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut: 
1) Siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam kelompok 
2) Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalah 
3) Menerapkan bimbingan sesama teman 
4) Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi 
5) Memperbaiki kehadiran 
6) Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar 
7) Sikap apatis berkurang 
8) Pemahaman materi lebih mendalam 
9) Meningkatkan motivasi belajar 
10) Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif 
11) Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompok 
12) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan kelompok lain 
13) Setiap siswa saling mengisi satu sama lain. 
 Kekurangan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut. 
1) Keadaan kondisi kelas yang ramai,sehingga membuat siswa binggung dan pembelajran kooperatif tipe jigsaw merupakan pembelajaran baru; 
2) Jika guru tidak meningkatkan agar siswa selalu menggunakan ketrampilan­ketrampilan kooperatif dalam kelompok masing­masing maka dikhawatirksn kelompok akan macet 
3) Siswa lemah dimungkinkan menggantungkan pada siswa yang pandai 
4) Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah,misal jika ada anggota yang hanya memboncengdalam menyelesaikan tugas­tugas dan pasif dalam diskusi 
5) Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila ada penataan ruang belum terkondiki dengan baik, sehingga perlu waktu merubah posisi yang dapat juga menimbulkan gaduh serta butuh waktu dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik. 

 BAB III PENUTUP 

 A. Kesimpulan 
Dalam hal ini peneliti menggunakan metode jigsaw. Istilah metode berasal dari bahasa Yunani "Metodos". Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu "Metha" yang berarti melalui atau melewati dan "hodos" jalan atau cara. Jadi metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian Kata jigsaw berasal dari bahasa Inggris yang berarti “gergaji atau memotong”. Dalam metode pembelajaran teknik jigsaw termasuk dalam jenis metode pembelajaran kooperatif. Metode jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif di mana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian. Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian di adaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui metode jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. 
 B. Saran 
1. Guru seharusnya menjelaskan model pembelajaran tipe jigsaw ini dulu kepada siswa sebelum          menerapkannya, agar siswa tidak binggung. 
2. Guru harus pandai dalam memilih materi pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam model ini. 
3. Bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa biasa melihat guru/papan tulis dengna jelas, biasa melihat rekan­rekan kelompoknya dengan baik, dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata. 
4. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw perlu digunakan atau diterapkan karena suasana positif yang timbul akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pelajaran dan sekolah atau guru, selain itu siswa akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan berpikir serta meningkatkan keaktifan. 

DAFTAR PUSTAKA 

 Zaini, Hisyam dkk. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani, 2006 http:///sunartombs.wordpress.com/2009/06/15/pengertian-dan-penerapan-metode-jigsaw: Diakses pada tanggal 07 Maret 2012 

www.kabarpendidikan.blogspot.com,www.arminaperdana.blogspot.com,www.kmpmalang.com : Diakses pada tanggal 07 Maret 2012 

http://carapedia.com/model_pembelajaran_jigsaw_info587.html : Diakses pada tanggal 07 Maret 2012 http://infoini.com/2012/pengertian-metode-jigsaw.html : Diakses pada tanggal 07 Maret 2012 Silberman, Mel. 2010. Cara Pelatihan & Pembelajaran Aktif. Jakarta: PT Indeks. 

http://matematika­ipa.com/pembelajaran­kooperatifmodel­pembelajaran­kooperatif­tipe­jigsaw­kelebihan­dan­kelemahan­tipe­jigsaw
/ http://kabar­pendidikan.blogspot.com/2011/24/pembelajaran­dengan­metode­jigsaw.html?m=1

Senin, 25 April 2016

Model Pembelajaran Picture and Picture

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

                        
Pembelajaran merupakan usaha sadar dan di sengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar secara aktif dalam mengembangkan kreativitas berpikirnya. Tujuan pokok penyelenggaraan kegiatan pembelajaran adalah membelajarkan siswa agar mampu memproses dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagi diri sendiri. Siswa diharapkan termotivasi dan senang melakukan kegiatan belajar yang menarik dan bermakna. Hal ini berarti model pembelajaran sangat penting dalam kaitannya dengan keberhasilan belajar.
Model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, lingkungan dan sistem pengelolaannya, sehingga model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada pendekatan, strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas ataupun pembelajaran yang termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Dengan demikian model pembelajaran adalah pedoman yang digunakan dalam merencanakan pembelajaran dengan sistematis untuk mencapai tujuan belajar yang akan dilaksanakan oleh guru.
Salah satu model yang saat ini populer dalam pembelajaran adalah model pembelajaran picture and picture yang merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan silih asuh. Model pembelajaran picture and picture adalah suatu proses belajar mengajar dengan menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan menjadi sebuah urutan yang logis.
Pembelajaran ini memiliki ciri aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik, dan kreatif, setiap pembelajarannya harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan metode, teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari proses pembelajaran.
Model pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta ukuran besar. jika di sekolah sudah menggunakan ICT bisa juga menggunakan Power Point atau software lainnya yang mendukung.
Model pembelajaran picture and picture  ini dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran dan tentunya dengan kemasan dan kreatifitas guru. Sejak dipopulerkan sekitar tahun 2002, model pembelajaran ini mulai menyebar pada kalangan guru di Indonesia. Dengan menggunakan model pembelajaran tertentu maka pembelajaran menjadi menyenangkan. Selama ini hanya guru sebagai aktor di depan kelas, dan seolah-olah guru-lah sebagai satu-satunya sumber belajar.
B.     Rumusan Masalah
Adapun beberapa rumusan masalah dari makalah yang di susun adalah sebagai berikut :
a.       Apa yang di maksud dengan model pembelajaran picture and picture?
b.      Apa saja prinsip dasar model pembelajaran picture and  picture?
c.       Bagaimana langkah-langkah pembelajaran dengan model picture and  picture?
d.      Apa saja ciri-ciri model pembelajaran picture and  picture?
e.       Apa saja kelebihan dan kelemahan model pembelajaran picture and  picture?
C.   Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun bukan tanpa tujuan, adapun beberapa tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui pengertian model pembelajaran picture and picture.
b.      Untuk mengetahui prinsip dasar model pembelajaran picture and  picture
c.       Untuk mengetahui  langkah-langkah model pembelajaran picture and  picture
d.      Untuk mengetahui ciri model pembelajaran picture and  picture.
e.       Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran picture and picture.
f.       Untuk bisa mengetahui apa sajakah jenis-jenis media gambar. 
g.      Untuk bisa mengetahui perbedaan model pembelajaran picture and picture dengan media gambar.

D.   Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan metode searching dari beberapa sumber yang diketahui seperti yang tertera pada daftar pustaka.












                     




BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Model Pembelajaran Picture and Picture
                   Sebelum    memaparkan    tentang    model   pembelajaran    picture    and picture,  maka  akan  di bahas pengertian   model,  strategi,  metode,  pendekatan, teknik dan taktik pembelajaran secara singkat.
                   Menurut Istarani model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar   yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran  yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar. Sedangkan Mohammad Ali menyatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk mengembangkan dan mengarahkan pembelajaran di  kelas atau di luar kelas yang sesuai dengan karakteristik perkembangan dan karakteristik belajar siswa.
                   Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien, dengan kata lain  strategi pembelajaran merupakan suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk mengetahui hasil belajar pada siswa.
                   Metode secara harfiah adalah cara atau prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, kata mengajar sendiri berarti memberi pelajaran. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, bisa terjadi satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Dengan kata lain metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.
                   Pendekatan  adalah  istilah lain  yang memiliki kemiripan  dengan  strategi pembelajaran.  Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap  proses pembelajaran.  Oleh karena  itu ada dua pendekatan  dalam pembelajaran,  yaitu pendekatan yang berpusat pada guru dan pendekatan yang berpusat  pada  siswa. Pendekatan  yang berpusat pada guru menurunkan  stategi pembelajaran langsung (direct    instruction) pembelajaran  deduktif    atau pembelajaran  ekspositori.  Sedangkan  pendekatan  pembelajaran  yang   berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran  discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif.
                   Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pengajaran. teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode.  Untuk  itu  Rostiyah  NK  mengatakan  teknik  adalah  suatu  pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan oleh suatu instruktur. Sedangkan taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik   atau metode tertentu. Misalnya walaupun  dua  orang  guru  sama-sama  menggunakan  metode  ceramah dalam situasi dan kondisi yang sama, sudah pasti mereka akan melakukannya secara berbeda-beda.
                   Model pembelajaran  picture and  picture adalah suatu model belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan  menjadi urutan  logis. Model pembelajaran   ini   mengandalkan    gambar   sebagai   media   dalam   proses pembelajaran.  Gambar-gambar  ini menjadi faktor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar.
                   Menurut  Supriono,  2009    bahwa  pembelajaran  kooperatif  picture  and picture adalah salah satu model pembelajaran aktif yang menggunakan gambar dan   dipasangkan   atau   diurutkan   menjadi   urutan   yang  sistematis,  seperti menyusun gambar secara berurutan, menunjukkan gambar, memberi keterangan gambar dan menjelaskan gambar. picture and  picture ini berbeda dengan media gambar dimana picture and  picture berupa gambar yang belum disusun secara berurutan  dan yang menggunakannya adalah siswa, sedangkan media gambar berupa  gambar  utuh  yang digunakan oleh guru  dalam proses pembelajaran. Dengan adanya penyusunan gambar guru dapat mengetahui kemampuan siswa dalam memahami konsep materi dan melatih berpikir logis  dan sistematis, dapat melihat   kemampuan   siswa   dalam   menyusun   gambar   secara   berurutan, menunjukkan gambar, memberi keterangan dan menjelaskan gambar, Sehingga siswa  dapat  menemukan  konsep  materi  sendiri  dengan  membaca  gambar. Adanya  gambar-gambar  yang berkaitan dengan materi belajar siswa lebih aktif dan tercapainya tujuan akhir dari proses pembelajaran yaitu hasil belajar meningkat meningkat.
B.   Prinsip Dasar Model Pembelajaran Picture and Picture
                   Prinsip dasar dalam model pembelajaran kooperatif picture and picture adalah sebagai berikut:
a.       Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b.      Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
c.       Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
d.      Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
e.       Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
f.       Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
C.   Langkah-Langkah Model Pembelajaran Picture and Picture
                   Adapun langkah-langkah dari pelaksanaan picture and  picture ini menurut Jamal Ma’mur Asmani terdapat tujuh langkah yaitu:
1.      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
                   Langkah pembuka pada kegiatan belajar mengajar salah satunya yaitu guru menyampaikan apa yang menjadi kompetensi dasar mata pelajaran yang akan dipelajari. Dengan demikian maka siswa  dapat   mengukur   sampai  sejauh  mana materi pembelajaran   yang  harus   dikuasainya. Di samping   itu    guru    juga    harus    menyampaikan    indikator-indikator ketercapaian kompetensi dasar, sehingga kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan dapat tercapai oleh peserta didik.
2.      Menyajikan materi sebagai pengantar
                   Penyajian materi sebagai pengantar  sesuatu yang sangat penting, dari sini  guru  memberikan  momentum  permulaan  pembelajaran.  Keberhasilan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian  siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian  materi  akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.
3.      Guru  menunjukkan/memperlihatkan  gambar  yang berkaitan  dengan materi.
                   Dalam proses penyajian materi, guru mengajak siswa ikut terlibat aktif dalam   proses   pembelajaran   dengan   mengamati   setiap   gambar   yang ditunjukan  oleh  guru  atau  siswa lainnya.   Dengan  gambar   kita  akan menghemat energi kita serta siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan.  Dalam  perkembangan  selanjutnya guru  dapat memodifikasikan gambar  atau  mengganti  gambar  dengan  video  atau demontrasi kegiatan tertentu.
4.      Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian untuk memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
                   Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara   adalah   dengan   undian,    sehingga   siswa   merasa   memang   harus menjalankan tugas yang harus  diberikan.  Gambar-gambar  yang sudah ada di minta ke siswa untuk diurutkan, di buat, atau di modifikasi.
5.      Guru menanyakan alasan atau dasar pemikiran dari urutan gambar tersebut.
                   Siswa  di latih  untuk  mengemukan   alasan  pemikiran   atau  pendapat tentang urutan  gambar tersebut.  Dalam langkah  ini peran  guru  sangatlah penting sebagai fasilitator dan motivator agar siswa berani mengemukakan pendapatnya.
6.      Dari alasan/urutan  gambar tersebut, guru mulai menanamkan konsep materi, sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
                   Dalam proses ini guru memberikan penekanan-penekanan  pada hal-hal yang ingin dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi atau menuliskan dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian kompetensi dasar dan indikator yang telah ditetapkan. Pastikan bahwa siswa telah menguasai indikator yang telah ditetapkan.


7.      Siswa di ajak untuk menyimpulkan/merangkum materi yang baru saja diterimanya.
                   Kesimpulan  dan  rangkuman  dilakukan  bersama  dengan  siswa. Guru bertindak sebagai fasilitator dan membimbing  dalam proses pembuatan  kesimpulan dan  rangkuman tersebut.  Apabila masih ada siswa yang belum mengerti tentang hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam pengamatan gambar tersebut guru memberikan penguatan atau sedikit menjelaskan kembali tentang gambar tersebut.
                   Ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan dalam menyusun  pelaksanaan pembelajaran, adapun  beberapa  prosedur  tersebut diantaranya adalah :
1.      Strategi perumusan sasaran proses belajar mengajar (PBM),  yang berkaitan dengan strategi yang akan digunakan oleh pengajar dalam menentukan pola ajar untuk mencapai sasaran PBM.
2.      Strategi perencanaan proses belajar mengajar, berkaitan dengan langkah- langkah pelaksanaan mencapai sasaran yang telah ditetapkan.  Dalam tahap ini termasuk perencanaan tentang media ajar yang akan digunakan.
3.    Strategi  pelaksanaan   proses  balajar  mengajar,  berhubungan  dengan  pendekatan sistem  pengajaran   yang  benar-benar   sesuai  dengan  pokok bahasan materi ajar.
                   Berdasarkan  uraian di  atas dapat kita lihat bahwa model pembelajaran picture and  picture pada dasarnya merupakan salah satu strategi pembelajaran yang  dapat  menjawab  persoalan  bagaimana  belajar  itu  bermakna, menyenangkan,   kreatif,  dan   sesuai  dengan   realita   yang  ada   serta   lebih melibatkan siswa aktif belajar, baik secara mental, intelektual,  fisik, maupun sosial.
                   Model pembelajaran  picture and  picture yang sesuai dengan artinya adalah menggunakan  media gambar. Gambar yang baik digunakan dalam pembelajaran adalah gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh karena  itu, terdapat  tiga syarat yang harus dipenuhi.


a.       Harus otentik
                   Gambar  tersebut  haruslah  secara jujur melukiskan situasi seperti melihat benda sebenarnya.
b.      Sederhana
                   Komposisi  hendaknya  cukup  jelas dalam  menunjukkan  poin-poin   pokok  yang terdapat pada gambar.
c.       Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni
D.   Ciri- Ciri Metode Pembelajaran Picture And Picture
Model pembelajaran kooperatif picture and picture memiliki beberapa ciri-ciri yaitu :
1.   Aktif
Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif picture and picture siswa atau peserta didik akan menjadi lebih aktif, hal ini dikarenakan dalam model pembelajaran ini guru menggunakan media gambar dalam memberikan pembelajaran, sehingga siswa menjadi lebih aktif dan meningkatkan rasa ingin taunya menjadi lebih besar. Selain itu dalam pelaksanaan metode ini seorang siswa juga dianjurkan untuk bisa merancang atau menggabungkan gambar sebagai media pembelajaran yang digunakan, dengan demikian siswa tidak hanya mendengarkan guru tetapi juga mengikuti pembelajaran dengan lebih aktif.
2.   Inovatif
Dalam model pembelajaran picture and picture seorang siswa dan guru sebagai pengajar akan menjadi lebih aktif, hal ini dikarenakan menggunakan suatu pembaharuan dalam proses pembelajaran, tidak semata hanya guru menerangkan dan siswa yang mencatat.
3.   Kreatif
Dalam hal ini selama proses pembelajaran dengan model picture and picture selain guru, siswa juga akan ikut menjadi lebih kreatif. Karena dalam kegiatan ini terjadi interaksi langsung antar siswa, ketika seorang guru memberikan gambar, mengacaknya, dan siswa diharapkan untuk bisa menyusunnya kembali.
Dalam kegiatan tersebut siswa diharapkan untuk bisa lebih kreatif dalam mengatasi rasa bosannya. Guru sebagai pengajar juga di tuntut untuk bisa lebih kreatif, seorang guru diharapkan mampu menyajikan sebuah gambar-gambar atau slide yang bisa membuat siswa menjadi lebih tertarik dengan proses pembelajaran.
4.   Menyenangkan
Pada awalnya mungkin bagi beberapa guru model ini di anggap akan menimbulkan kegaduhan di dalam kelas karena terlalu banyak aktifitas siswanya. Namun bagi siswa apabila guru menerapkan model ini dalam pembelajarannya mereka akan lebih tertarik dan merasa senang selama proses belajar berlangsung. Hal ini disebabkan karena model pembelajaran picture and picture bisa juga di sebut sebagai model belajar sambil bermain, sehingga siswa tidak merasa bosan ketika proses belajar mengajar berlangsung.
E.  Kelebihan Dan Kekurangan Metode Pembelajaran Picture And Picture
Dalam setiap model pembelajaran tentu ada kelebihan dan kekurangannya, menurut Istarani (2011:8) kelebihan dan kekurangan model pembelajaran picture and picture adalah :
a.   Kelebihan Model Pembelajaran Picture And Picture :
 1.  Materi yang diajarkan lebih terarah karena pada awal pembelajaran guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai dan materi secara singkat terlebih dahulu. 
2.  Siswa lebih cepat menangkap materi ajar karena guru menunjukkan gambar -gambar mengenai materi yang dipelajari.
3.      Dapat meningkatkan daya nalar atau daya pikir siswa karena siswa ditugaskan guru untuk menganalisa gambar yang ada. 
4.      Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa, sebab guru menanyakan alasan siswa ketika mengurutkan gambar yang ditugaskan. 
5.      Pembelajaran lebih berkesan, sebab siswa dapat mengamati langsung gambar yang telah dipersiapkan oleh guru.


b.   Kekurangan Model Pembelajaran Picture And Picture :
1.      Memakan banyak waktu
2.      Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas.
3.      Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lain
4.      Sulit menemukan gambar-gambar yang bagus dan berkulitas serta sesuai dengan materi pelajaran.
5.      Sulit menemukan gambar-gambar yang sesuai dengan daya nalar atau kompetensi siswa yang dimiliki. baik guru ataupun siswa kurang terbiasa dalam menggunakan gambar sebagai bahan utama dalam membahas suatu materi pelajaran.
6.      Tidak tersedianya dana khusus untuk menemukan atau mengadakan gambar gambar yang diinginkan.
Sudjana dan Rivai (2002) mengungkapkan beberapa kelebihan pembelajaran dengan mengunakan media gambar sebagai berikut:
a.       Konkrit, lebih realistis dan menunjukkan pokok masalah atau pesan yang akan dikomunikasikan bila dibandingkan media verbal.
b.      Dapat mengatasi batasan ruang dan waktu
c.       Dapat mengatasi keterbatasan indera
d.      Dapat memperjelas suatu masalah yang kompleks
e.       Murah harganya dan mudah diperoleh.
Beberapa kelemahan dari penggunaan media gambar sebagi berikut:
a.       Tafsiran orang yang melihat gambar akan berbeda akan terjadi ketidak samaan dalam penafsiran gambar,
b.      Gambar hanya menampilkan persepsi indera mata,
c.       Gambar hanya disajikan dalam ukuran kecil mengakibatkan kurang efektif untuk proses pengajaran
Jenis jenis media gambar menurut  menurut Riyanto (1990)  dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a.       Foto dokumentasi; menyangkut dokumen yang berhubungan dengan nilai sejarah.
b.      Foto aktual; gambar atau problem aktual ini menggambarkan kejadian kejadian atau problem aktual.
c.       Gambar atau foto reklame; gambar ini bertujuan untuk mempengaruhi manusia dengan tujuan komersial. Gambar ini terdapat dalam  surat kabar, majalah-majalah, buku-buku, poster-poster. Gambar ini dapatdigunakan sebagai media pendidikan dalam pelajaran ekonomi, pengetahuan sosial,bahasa dan lain-lain.
d.      Gambar atau foto simbolik; jenis ini terutama dalam bentuk simbol yang mengungkapkan pesan tertentu, misalnya gambar ular  yang sedang makan kelinci merupakan simbol yang mengungkapkan suatu kehidupan manusia yang mendalam





















BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Model pembelajaran picture and picture merupakan salah satu jenis pembelajaran kooperatif. Pembelajaran picture and picture merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Model pembelajaran picture and picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Pembelajaran ini memiliki ciri aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik. Dan kreatif, setiap pembelajarnya harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan metode, teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari proses pembelajaran.
Model pembelajaran picture and picture ini berbeda dengan pembelajaran menggunakan media gambar dimana picture and picture berupa gambar yang belum di susun secara berurutan dan yang menggunakannya adalah siswa, sedangkan media gambar berupa gambar utuh yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Dengan adanya penyusunan gambar guru dapat mengetahui kemampuan siswa dalam memahami konsep materi dan melatih berfikir logis dan sistematis.
B.           Saran
1.        Untuk menghemat waktu, hendaknya pada tahap ke-2  yakni tahap guru menyampaikan materi pengantar dihapuskan saja. Hal ini dikarenakan, pada tahap ini sebenarnya sudah tercantum pada tahap ketika yakni tahap guru menunjukan gambar-gambar  yang berhubungan  dengan  materi.  Pada  tahap  ini  guru  dapat menyisipkan materi pengantar sekaligus menunjukan gambar dan informasi lain yang berkaitan.
2.      Untuk mengaktifkan semua siswa secara berkelompok, guru diharuskan  untuk mampu     membimbing     semua     siswa     dalam     kelompok     agar   mampu
      mempresentasekan hasil yang dicapai.
3.      Penggunaan media gambar pada model pembelajaran picture and  picture merupakan aspek  utama  untuk  siswa  dapat  memahami  konsep. Maka dari  itu,  hendaknya gambar  yang digunakan  lebih modern  dengan menggunakan flash yang bersifat interaktif.
4.      Penggunaan evaluasi secara tertulis juga harus  dilaksanakan,  karena sebagai parameter keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Sehingga, agenda evaluasi bisa disisipkan pada akhir sintak model pembelajaran picture and  picture.
5.      Perlu   dilakukan   kajian   secara   mendalam   mengenai   model pembelajaran picture and  picture sebagai penyempurnaan sintaks.















DAFTAR PUSTAKA

Ali,  Mohammad.  2007.   Modul  Teori  dan   Praktek  Pembelajaran Pendidikan Dasar.Bandung: UPI Press.
Istarani,  2011.58 Model Pembelajaran  Inovatif  (Referensi Guru Dalam Menentukan Model Pembelajaran). Medan: Media Persada.
Jamal, M.  Asmani. 2011.Tujuh Tips  Aplikasi PAKEM. Yogyakarta: Diva Press. Roestiyah NK. 2008.  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Sanjaya,    Wina.    2008.      Strategi    Pembelajaran    Berorientasi    Standar    Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Suprijono, A. 2009.  Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Online:
Dewi  Rima.  2014.    Metode  Pembelajaran  Picture  and    Picture.  Diakses   melalui: http://dewirima26fkipuns.blogspot.com/2014/05/metode-pembelajaran-picture- and-picture.html.
Eko.        2011.         Model      Pembelajaran       Picture      and         Picture.       http://ras- eko.blogspot.com/2011/05/model-pembelajaran-picture-and picture.html/.

Sunenti,        Titi.       2013.         Model       Pembelajaran       Picture       and         Picture. http://titisunenti.blogspot.com/2013/03/model-pembelajaran-picture-and- picture.html.